Thursday, August 9, 2018

Pengembangan Desa Ketetang melalui Produk Unggulan dan Wisata Religi



Desa Ketetang merupakan daerah pesisir selat Madura. Mata pencaharian penduduk pada zaman dahulu mayoritas adalah nelayan. Pada suatu hari ada seorang ulama yang mensyia’rkan Agama Islam yang singgah di daerah itu. Ulama tersebut merupakan utusan dari wali songo untuk menyebarkan agama. Ulama’ itu bernama Syeikh Zainal Abidin atau Sunan Cendana yang merupakan cucu dari Sunan Ampel. Sunan Cendana merupakan tokoh yang menjadi ikon wisata religi desa Ketetang yang terkenal dengan buju’ Sunan Cendana. Hal ini dikarenakam Sunan Cendana merupakan orang yang pertama kali mengislamkan masyarakat desa Ketetang dan Cakraningrat pada abad ke-15.
Menurut para ahli sejarah desa Ketetang, nama desa ini tercipta dari perseteruan antara bahasa jawa dan bahasa Madura yaitu kete’ dan kettang. Dahulu, banyak para pendatang yang ingin berziarah ke buju’ Sunan Cendana. Disana terdapat banyak monyet berkeliaran didaerah buju’, kira-kira ada lebih dari 100 monyet. Para peziarah pendatang dari Jawa, menyebut desa ini dengan sebutan desa kete’ sedangkan peziarah Madura menyebut desa ini dengan sebutan kettang. Oleh karena itu, untuk mendamaikan perseteruan nama desa maka desa ini disebut dengan Desa Ketetang.
Desa Ketetang terdiri dari delapan dusun, yaitu Kauman, Jagalan, Kampong Masjid, Sekepai, Ketetang, Le’pale’, Morogen dan Koalas. Asal mula terciptanya nama dusun Kauman dan Jagalan sampai sekarang belum diketahui. Namun ahli sejarah mengatakan bahwa nama Kauman dan Jagalan berasal dari bahasa Jawa, sedangkan penyebab terciptanya nama tersebut belum diketahui. Dusun ketiga yakni dusun Kampong Masjid. Asal nama dusun ini tercipta dari bahasa Madura yang berarti “kampung masjid”. Hal ini dikarenakan dusun ini terletak didaerah masjid Sunan Cendana, sehingga dusun ini disebut dusun Kampong Masjid. Dusun keempat yakni dusun Sekepai. Asal mula nama dusun Sekepai berasal dari bahasa Madura yang berarti “satu kipasan”. Dahulu, dusun ini terdapat banyak penjual kipas. Sehingga banyak penjual yang mengatakan Sekepai sambil mengipas-ngipas kipasnya. Oleh karena itu, dusun ini disebut dusun Sekepay.
Dusun kelima yakni dusun Ketetang.Dusun ini merupakan pusat dari desa Ketetang. Asal nama dusun ini sama dengan asal nama dari desa Ketetang. Dusun keenam yakni dusun Le’pale’. Asal nama dusun ini disebabkan oleh jalan menuju dusun ini yang berkelok-kelok, dalam bahasa Madura berkelok-kelok disebut Le’pale’. Dusun ketujuh yakni dusun Marogen. Asal nama dusun ini diperoleh dari bahasa Madura “Pamorogen” yang berarti tempat pengajaran. Dahulu, didaerah dusun ini ada seorang Kyai yang bernama Kyai Syam. Beliau sering mengajarkan mengaji ke anak-anak kecil di dusun ini, sehingga masyarakat disana sering menyebut dusun ini dusun Morogen. Dusun kedelapan yakni dusun Koalas. Asal nama dusun ini diperoleh dari istilah Kampong Alas. Hal ini dikarenakan dusun ini penuh dengan lahan-lahan pertanian yang dalam bahasa Madura disebut alas.
Program kerja kelompok KKN 39 di Desa Ketetang Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan-Madura, Jawa Timur antara lain :
1.     Pengembangan Wisata Religi. Sejarah Bhuju’ Guwah Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan-Madura, Jawa Timur


Pada zaman dahulu KH. Rannadi disebut KH. Rijal karena beliau sudah melaksanakan  ibadah haji. Kemudian oleh warga sekitar nama beliau diganti menjadi Syech Abu Rijal karena pada saat itu ada warga sekitar  yang berziarah dan bermalam di Bhuju’ Guwah dari pukul 12 malam sampai waktu subuh. Beliau setiap malam selalu mengirim doa (khususin) kepada KH. Rijal. Disuatu malam dipertengahan ziarah beliau didatangi sebuah mimpi dan didalam mimpinya itu ada seorang lelaki yang mengatakan bahwa “Nama saya Abu Rijal”. Sejak saat itu makamnya menjadi Bhuju’. Dan setiap tahun warga sekitar makam selalu mengadakan selamatan (kalau kata orang Madura khol-lan). Lambat laun warga sekitar mengusulkan kenapa hanya dinamakan KH. Abu Rijal, padahal ini sudah sesepuh di Bhuju’ Guwah ini, sehingga mereka menyebutnya Syech karena ingin menghormati orang yang lebih sepuh (tua).
Dinamakan Bhuju’ Guwah karena dulu ketika mudanya ketika zaman penjajahan. Bhuju’ Guwah ini anti dengan penjajah sehingga karena ingin mengetahui informasi tentang tingkah laku penjajah, beliau bertapa didalam Guwah ini selama 41 hari sambil berpuasa tidak makan nasi hanya berbuka dengan 1 (satu) buah pisang mas. Setelah 41 hari kondisi beliau sangat lemah bahkan hampir pingsan bahkan tidak mengenal orang sehingga warga sekitar mengadakan selamatan 1 (satu) tumpeng nasi kemudian dibuka dan dikipas-kipas disamping Bhuju’. Sampai pada akhirnya sadar kembali selama di dalam Gua karena tidak ada lampu. Untuk mengetahui waktu sholat beliau menggunakan tali yang diberi lonceng yang kemudian dihubungkan ke Bhuju’ Karomi yang jaraknya sekitar 200 m. Jadi ketika adzan berkumandang tali tersebut akan ditarik sehingga lonceng yang ada di dalam Guwah berbunyi yang menandakan waktu sholat telah tiba.
Bhuju’ Karomi ini merupakan mertua (Majedi’ Sepopoh).  Bhuju’ ini senang dengan kesenian layangan “Suwengngan” (layangan yang berbunyi) ketika layangan ini kehilangan keseimbangan, beliau langsung menaiki lewat tali layangannya tanpa menurunkan layangannya dengan menggunakan alas kaki atau “paccak” untuk memperbaikinya. Kalau malam hari beliau sambil menggunakan lampu “damar talpeh” untuk memperbaiki layangannya. Beliau juga pernah bertapa di Gunung Arjuna di Malang dengan hanya membawa 3 kg kara’ (nasi yang sudah dijemur) namun hanya diminum air rendamanya saja, ketika bebuka puasa beserta sahurnya. Sehingga 3 kg kara’ (cengkarok) itu tidak dipakai sama sekali karena hanya diminum air rendamanya selama 41 hari.
Amalan Bhuju’ Guwah ini yaitu Surat Al-Ikhlas. Ketika sudah berkeluarga, beliau bertani dan ketika mengembala sepetak tanahnya seberapun luasnya dengan membaca Surat Al-Ikhlas 1000x karena orang bertani ini ingin tidak tidur di malam hari maka menabur biji accem “Assemah” ditanahnya sambil membaca Surat Al-Ikhlas 1000x. Dengan membaca Surat Al-Ikhlas sambil mencari biji accem tersebut sampai 1000x. Suatu ketika di malam hari itu terdapat satu biji accem yang tidak ditemukan sampai shubuh, sehingga dibiarkan tidak dicari kemungkinan tertutup batu sehingga biji tersebut tumbuh menjadi pohon yang besar.
Namun karena pohon accem tersebut dekat dengan rumahnya dan ditakutkan roboh sehingga di tebang dan menyebabkan jin didalamnya keluar tanpa arah (bertebaran). Sehingga membuat tempat itu angker. Warga sekitar akan melarang anak kecil bermain di area tersebut diwaktu dzuhur dan malam hari karena ditakutkan disembunyikan jin yang ada disitu. Waktu melamar Siti Maysaroh putranya Bhuju’ Karomi ini meminta lamaran dibuatkan sumur yang dibuatkan sendiri, sehingga setiap malam melakukannya sambil dzikir dan sumur itu harus diberi tanda dibawahnya yaitu janda yang seperti menyerupai sebuah susu wanita sebagai tanda kenangan lamaran untuk Siti Maysaroh. Sampai saat ini sumur itu masih ada dan digunakan.
Suatu ketika Bhuju’ Guwah ini bersama saudaranya KH. Muhammad Ikhsan (Wali Songo) berkeliling di tanah jawa dengan berjalan kaki dan didalam ziarahnya Bhuju’ Guwah berdoa kepada Allah semoga keturunanya diberikan anak keturunan yang soleh dan solehah yang berguna untuk bangsa dan negara, walaupun tidak harus menjadi orang besar tapi tidak kekurangan sandang dan pangan. Dan ternyata benar bahwa keturunannya tidak ada yang menjadi pejabat. Namun saudaranya KH. Muhammad Ikhsan juga berdoa yang sama namun bedanya beliau berdoa semoga keturunannya dapat ikut turun tangan ke pemerintahannya serta semoga bagi para wanitanya tidak ada yang punya rambut panjang. Karena ada kejadian wanita muda yang mempunyai rambut panjang diculik oleh orang Belanda dan dibawa ke negaranya.
Sehingga keturunannya seperti Nyai Fina, Nyai Nyumina dan lainnya tidak ada yang mempunyai rambut panjang kebelakang tapi panjang kesamping dan sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa nama asli dari Nyai Bhuju’ tersebut, sehingga dinamakan Nyai Gerembeng. Kalau saat ini rambut panjang bisa dipotong. Dan menurut sesepuh di Desa Ketetang ini dilarang untuk mendirikan konser (orkes) karena diriwayatkan akan mengalami kesepian dalam keluarganya terutama ketika mengadakan pernikahan. Karena kebanyakan yang sudah melanggar keluarganya tidak tentram seperti mengalami kebangkrutan dalam usahanya, dan terkadang sakit-sakitan orangnya sehingga meninggal. Namun semuanya sudah diatur oleh Allah SWT.
Namun alangkah baiknya kita tidak terlalu mempercayai namun tidak pula  membuangnya. Karena kita orang Madura yang kaya akan adat dan istiadat. Terkadang omongan orang tua ada benarnya tapi kita tidak boleh musrik karena semua kembali pada Allah. Percaya dan taat hanya kepada-Nya.

2. Sosialisasi Peduli Lingkungan di SDN Ketetang 2 Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan-Madura, Jawa Timur

Sosialisasi peduli lingkungan kepada siswa-siswi SDN Ketetang 2 dengan melakukan pengenalan dan pengajaran terhadap perbedaan jenis sampah yaitu, organik dan anorganik serta melakukan tindakan langsung dengan cara siswa - siswi mencari sampah disekitar sekolah dan memasukkannya ke dalam tempat sampah yang sudah tertulis organik dan anorganik. Perlunya pembinaan sikap peduli lingkungan tehadap anak sekolah dasar agar mereka memiliki kesadaran terhadap lingkungan disekitarnya. KKN 39 Universitas Tronojoyo Madura memberikan tempat sampah kepada SDN Ketetang 2 agar siswa - siswi dapat membuang sampah berdasarkan jenisnya yaitu sampah organik dan anorganik. Penerapan tindakan peduli lingkungan dengan program sekolah yaitu progaram Jum'at bersih bebas dari sampah adapun. minimnya kegiatan terhadap lingkungan sekitar membuat KKN 39 melakukan program tersebut dan minimnya tempat sampah yang berada diarea sekolah.

3.    Sosialisasi Pelatihan Pembuatan Produk Unggulan Berbahan Dasar Singkong (Pakopak dan Sipedis)



Potensi pangan yang terdapat di desa Ketetang bersumber dari tanaman singkong. Singkong tersebut didapat dari dusun Koalas yang merupakan salah satu dusun yang terdapat di desa Ketetang sebagai penghasil singkong. Warga desa Ketetang mengolah singkong menjadi kerupuk opak yang berbahan dasar singkong yang dihaluskan kemudian ditambah dengan rempah-rempah. Proses pembuatan kerupuk opak cukup sederhana, pertama yaitu menghaluskan singkong kemudian ditambah dengan tepung terigu dengan perbandingan 3:1. Selanjutnya yaitu menambahkan rempah-rempah. Kemudian membentuk opak menjadi lingkaran selanjutnya melakukan pengukusan, setelah dikukus opak tersebut dijemur dibawah sinar matahari agar kering.

Kelompok KKN 39 memberikan inovasi rasa baru terhadap kerupuk opak yang terdapat di desa Ketetang. Variasi rasa baru yang ditawarkan oleh kelompok KKN 39 antara lain, balado, rumput laut, ayam panggang, dan pedas. Kerupuk opak yang dibuat oleh warga desa Ketetang hanya terdiri dua varian rasa yaitu original dan manis. Hal tersebut yang menjadikan kelompok KKN 39 memberikan inisiatif dengan menambahkan variasi rasa baru terhadap kerupuk opak tersebut serta membuat kemasan krupuk opak agar lebih menarik dari kemasan sebelumnya yang hanya dikemas dengan menggunakan plastik biasa.

4.  Sosialisasi Pengembangan Media Sosial dalam Bidang Pariwisata dan Produk Unggulan Pakopak dan Sipedis

Media sosial saat ini berkembang sebagai sarana penyebaran informasi baik dalam bidang pariwisata maupun produk unggulan yang ada di berbagai daerah. Media sosial mempunyai peran yang sangat penting dalam menyebarkan luaskan hal-hal yang bersifat positif maupun negatif secara cepat baik dalam bentuk tulisan, foto maupun video. Salah satu hal positif yang bisa memberikan keuntungan adalah mempromosikan wisata dan produk unngulan dari suatu daerah. Seperti kegiatan yang telah dilakukan oleh kelompok KKN 39 UTM pada hari Rabu, 25 Juli yaitu berbagi informasi mengenai penyebaran dalam mempromosikan suatu hal. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya penggunaan media sosial di era modern ini dan agar masyarakat di luar daerah tersebut dapat mengetahui keunggulan-keunggulan apa saja yang ada di suatu daerah lainnya.

Blog, Instagram dan Facebook merupakan media sosial yang digunakan sebagai sarana penyebaran informasi yang digunakan oleh KKN 39 dalam mengembangkan potensi yang ada di salah satu desa, yakni di Desa Ketetang Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur. Blog merupakan aplikasi yang berbentuk tulisan yang dimuat sebagai posting pada sebuah halaman web yang dapat diakses oleh semua pengguna internet dengan topik dan tujuan dari pengguna blog. Sedangkan Instagram merupakan sebuah aplikasi untuk berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video dan menerapkan filter digital dan membagikannya ke berbagai layanan jaringan sosial. Facebook adalah suatu layanan media sosial yang dapat digunakan oleh semua kalangan yang dapat digunakan untuk mengakses informasi baik dalam bentuk tulisan, foto maupun video.

5.      Semarak HUT RI
 

Peringatan hari ulang tahun (HUT) RI selalu identik dengan beragam perlombaan yang diselenggarakan masyarakat di masing-masing desa. khususnya yang terdapat di Desa Ketetang. Setiap masing-masing dusun akan mengadakan perlombaan yang berbeda-beda dan unik. Perlombaan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT RI ke-73 tidak hanya diikuti oleh anak-anak kecil dan remaja, tetapi juga diikuti oleh orang-orang dewasa. Hal tersebut yang membuat suasana perlombaan menjadi lebih seru. Antusias warga dalam merayakan semarak HUT RI sangat luar biasa, hampir disemua dusun yang terdapat di desa Ketetang memiliki warga yang sangat berantusias untuk mengikuti perlombaan yang di adakan. Para remaja di setiap dusun bukan hanya ikut sebagai peserta melainkan juga menyumbangkan tenaga mereka untuk mengatur berjalannya acara agar dapat terkendali dan berjalan lancar sesuai rencana. Disetiap dusun akan selalu mengadakan rapat evaluasi setelah selesai acara untuk mengevaluasi acara yang sudah dilaksanakan , apakah sudah berjalan dengan lancar atau masih ada kendala. sehingga pentingnya evaluasi untuk memperbaiki di persiapan acara selanjutnya agar tidak terjadi kesalahan yang sama misalnya terjadi perselisiha antara peserta satu dengan yang lainnya yang memungkinkan terjadi pertengkaran. Sehingga peran panitia dalam mempersiapkan acara harus sesuai dengan aturan yang sudah disepakati agar tidak terjadi kecurangan.
Peringatan acara HUT RI ini bertujuan agar kita para remaja serta mereka para penerus bangsa yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dapat mengingat pentingnya arti dari sebuah perjuangan. Dimana mereka dapat mengerti arti dari perjuangan para tokoh pahlawan dalam memperjuangkan bangsa kita sampai menjadi negara yang merdeka. Selain itu mereka juga dapat mengerti bahwa perlombaan yang di adakan bukan hanya merebutkan kemenangan tapi bagaimana mereka menghargai perjuangan yang sudah dilakukan. perjuangan yang membuat mereka mengerti bahwa menuju suatu kemenangan butuh kesabaran dan usaha serta ketelitian agar tidak salah dalam bertindak (tidak terburu - buru tapi sampai juga).

6.  Inagurasi Kelompok KKN 39 kepada Masyarakat Desa Ketetang Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan-Madura, Jawa Timur
Inagurasi atau perayaan perpishan oleh kelompok KKN 39 kepada masyarakat desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan-Madura, Jawa Timur yaitu dengan mengadakan acara makan bersama yang mengundang remaja dari salah satu dusun yang berada disekitar posko KKN 39 yaitu dusun Sekepay dan beberapa perangkat desa Ketetang. Acara inagurasi tersebut akan dilaksanakan pada Jumat, 10 Agustus 2018 bertempat di posko KKN 39. Agenda yang terdapat dalam acara inagurasi adalah doa bersama dan makan bersama, hal tersebut dilakukan sebagai ungkapan terima kasih oleh kelompok KKN 39 terhadap masyarakat desa Ketetang karena telah menerima kehadiran kelompok KKN 39 dengan baik dan membantu berjalannya program kerja yang dilakukan oleh kelompok KKN 39.